Laman

SONIC the flash

SONIC the flash
yang ingin mencari lagu silahkan klik aja gratis ko

Sabtu, 06 Juni 2009

Berita Terkini # Pertumbuhan Mobile Content Ditargetkan 100 Persen # Windows 7 Segera Dipasarkan # Selandia Baru Serius Meneliti Gas Rumah Kaca #

20/02/2009 06:43

Liputan6.com, Kudus: Pemerintah telah memutuskan, pada 2018, seluruh stasiun telvisi akan menggunakan sistem digital dalam penyiarannya. Artinya, satu kanal bisa digunakan untuk menangkap enam frekuensi sekaligus. Teknologi tersebut tidak bisa dilakukan dengan sistem analog.

Sebagai bentuk sosialisasi migrasi ini, segenap jajaran direksi PT Konsorsium TV Digital Indonesia yang terdiri dari enam stasiun televisi mengadakan tinjauan ke pabrik elektronik Polytron di Kudus, Jawa Tengah, baru-baru ini. Selain dengan alasan penerapan produk lokal dalam berbagai aspek, pabrik ini juga sudah dipercaya banyak kalangan akan keunggulannya.

Rencananya, sistem ini diluncurkan pekan depan. Dan dapat langsung dinikmati masyarakat walau masih dalam areal terbatas. Bagi masyarakat yang televisinya belum dipasangi sistem digital, harus menggunakan alat penangkap seperti Set Top Box.(OMI/Teguh Hadi Prayitno dan Taufan Yudha)

Sejarah Solat 5 Waktu

Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutuskan oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke arah jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi yang lain, umat nabi Muhammad telah diperintahkan untuk mengerjakan solat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat nabi Muhammad dimana solat tersebut akan memberikan perlindungan ketika di hari pembalasan kelak. Berikut diterangkan asal-usul bagaimana setiap solat mula dikerjakan.

Subuh:

Manusia pertama yang mengerjakan solat subuh ialah Nabi Adam a.s. iaitu ketika baginda keluar dari syurga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar subuh telah keluar, Nabi Adam a.s. pun bersembahyang dua rakaat.

Rakaat pertama: Tanda bersyukur kerana baginda terlepas dari kegelapan malam.
Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana siang telah menjelma.

Zohor:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s. iaitu tatkala Allah SWT telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s.. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat.

Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan.
Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.
Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohon akan keredhaan Allah SWT.
Rakaat keempat: Tanda bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.

Asar:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Asar ialah Nabi Yunus a.s. tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah SWT daripada 4 kegelapan iaitu:

Rakaat pertama: Kelam dengan kesalahan.
Rakaat kedua: Kelam dengan air laut.
Rakaat ketiga: Kelam dengan malam.
Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun.

Maghrib:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Maghrib ialah Nabi Isa a.s. iaitu ketika baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukur Nabi Isa, lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari kejahilan tersebut iaitu:

Rakaat pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya.

Isyak:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Isyak ialah Nabi Musa a.s.. Pada ketika itu, Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap isterinya.
Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.
Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun.
Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun

Rabu, 03 Juni 2009

That First Record Date!

That First Record Date!

As many of us have found out over the years, the first time we ever get “the call” to play on a record, or make a record for the first time, it’s truly a milestone in a musician’s life! My first time was certainly no exception, but it certainly contained the kinds of difficulties that seemed to act as a “precursor” to events and other crazy sessions to come!

On that day, I happened to playing some schoolyard basketball in Queens, NY, where I had been rehearsing with a band that was getting ready to go out on the road with The Bee Gees, on their Canadian tour. Needless to say, I came down hard on the side of my ankle, not only spraining it badly, but actually tearing the muscle! I went to the doctor, and he said I had to keep it elevated at all times at 180 degrees, and that I must not let it dangle, because the pain was excrutiating!

And, of course, what happens next? I get a call from producer John Simon, who had apparently heard me play in Woodstock one night, and was blown away by what he heard. He wants me to come down to RCA studios, that same day, in Manhattan, and to record on some tracks with a full band, as well as overdub some tracks over what Cornell Dupree had played. This was for an album, “Refugees”, by a new singer named Rachel Faro, and people like Harvey Brooks, the bass player, and other renowned players were also going to be on the date. Needless to say, the was NO WAY I was ever going to miss this session! This was a bona fide chance to really “break in” to the New York recording scene, and I wasn’t going to miss this opportunity.

So, they assured me I would be well-taken care of at the session, and me and my Dad, who drove me, went down to RCA studios on 6th Ave. What a great and warm feeling it was when I realized that all the musicians were so kind to me, helping me get around, keeping that foot up, etc.! It really was well-worth all I went through, even though they really didn’t know how to get a good guitar sound yet in NY it seemed, because even after giving them the best tone I could muster, it always sounding like a thin,little trebly “nothing” when I listened to the playback! Still, all in all, it just shows, don’t miss those dates when they come up, because they always lead to something more after that, and you never know who will be “tuning in” and listening to you, whether it be at a live gig, or in the studio!

Selasa, 02 Juni 2009

TRAGEDI BINTARO 19-10-1987

       Pagi itu pukul 06.45, KA 225 yang ditarik lokomotif BB30316 dengan masinis Slamet Suradio dan ass. masinis Soleh berhenti di stasiun Sudimara dengan membawa +/- 700 penumpang yang sesaknya minta ampun, bahkan sampe ke loko. Kereta naas tsb berhenti di sepur (jalur) 3, dan sedang bersilang dengan KA 220 yang ditarik loko BB30616 dengan masinis Amung Sunarya dan ass.masinis Mujiono dengan membawa +/- 500 penumpang yang juga berdesakan yang sedang berada di sepur 2 Kebayoran Lama. 

Kemudian Djamhari, PPKA Sudimara memberitahukan persilangan di Kebayoran (saat itu di sepur 3 ada KA 1035 Indocement dan di sepur 1 ada 2 gerbong kosong rusak). Namun PPKA Kebayoran Lama Umriyadi menolak pemindahan persilangan KA dan tetap bertahan bahwa KA disilangkan di Sudimara, dan terjadi perseteruan antara Djamhari dan Umriyadi tentang pemindahan persilangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Umriyadi.
Kemudian Umriyadi memberangkatkan 220 dengan semboyan 35, 40, dan 41, dan disetujui oleh Djamhari.

Djamhari berniat mengosongkan sepur 2 untuk menampung KA 220 dengan memindahkan 225 ke sepur 1. dan memberikan perintah kepada Juru Langsir u/ mengambil bendera merah tanda melangsir KA 225 ke sepur 1. Juru Langsir membawa bendera merah menuju lokomotif 225 dan meniup peluit semboyan 46 untuk memberi peringatan kpd masinis dan penumpang bahwa KA 225 akan dilangsir, tanpa membatalkan perintah persilangan yg terlanjur diserahkan kpd Masinis KA 225.

Suradio mendengar peluit semboyan 46 Djamhari tanpa memastikan apakah Djamhari menunjukkan semboyan 40 atw tidak (krn lok penuh penumpang shg dy tdk dapat melihat posisi Djamhari), dan menanyakan kpd penumpang di luar lok "berangkat ya ??"... dan penumpang menjawab "berangkat !!!!", maka tanpa ragu ia membunyikan semboyan 35... kemudian semboyan 41
 tanpa melalui semboyan 40...

(konon, Suradio kayak dibisiki oleh setan budeg, tak mendengar teriakan Djamhari)

Mau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ikuti terus yahhh ceritanya... (maaf bukan OOT lho, soalnya cerita ini nyambung sama misterinya)

show.php.jpg








bintaro.jpg